banner 728x250
Berita  

Menteri Lingkungan Hidup Meminta Unissula Menanam 200 Ha Mangrove Di Pantai Utara Jawa Tengah

banner 120x600
banner 468x60

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup meminta agar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menanam mangrove 200 ha di pantai utara Jawa Tengah. Kementerian memandang, penyelesaian soal problem ekologis di Pantura Jawa Tengah mesti bisa diselesaikan secara menyeluruh.

Moh Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup menegaskan hal itu, kemarin (2/6) saat menjadi pembicara kunci di kampus Unissula – Semarang. “Anggarannya sudah tersedia. Jadi ini benar-benar Unissula tinggal membentuk tim kecil saja. Agar penanaman mangrove seluas 200 ha ini bisa direalisasikan dengan benar,” jelas Jumhur.

banner 325x300

Ia menambahkan, ada paradoks yang terjadi di Pantai Utara Jawa. Selama ini sumbangan Pantura ke PDB sebesar 27,53% atau senilai USD 368,37 miliar (sebesar Rp 6.446 triliun, dengan kurs Rp 17.500). Namun di balik angka ekonomi yang megah itu, menurut Jumhur, ada sekitar 17 juta jiwa penduduk pesisirnya tengah berhadapan langsung problem eksistensial berupa abrasi, banjir rob, dan penurunan permukaan tanah yang ekskalatif.

“Ini yang saya sebut paradoks Pantura. Perkembangan industri selalu membuat masyarakat marginal terpinggirkan. Di era saya hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” jelas Jumhur.

JADI PERSYARATAN AMDAL

Untuk itu, bekas tahanan politik era orde baru ini menyebutkan bahwa Kementerian LH sedang merumuskan regulasi baru terkait persyaratan Amdal. Menurutnya, ketika siapapun mengurus Amdal, maka wajib menjadikan kelompok masyarakat sekitar ikut menikmati kesejahteraannya.

“Selama ini banyak proyek raksasa yang selalu menyingkirkan kelompok marginal, apakah masyarakat pesisir, apakah masyarakat adat, apakah kelompok miskin kota. Selalu mereka terpinggirkan. Nanti tidak boleh terjadi lagi,” jelas MJH sapaan akrab Menteri.

Pembangunan Giant Sea Wall, menurut Jumhur juga wajib memperhatikan kehidupan nelayan. “Penanganan problem Pantura harus memperhatikan nasib nelayan. keadilan sosial mesti tegak. Negara harus hadir dalam kasus-kasus serius seperti ini,” ungkap Jumhur.

Maka dari itu, menurut Menteri, Unissula akan menjadi laboratorium Kementerian LH untuk bisa menanggulangi problem Pantura Jawa Tengah secara menyeluruh. “Jadi Kepanjangan tangan Kementerian di Pantai Utara Jateng adalah Unissula,” tegas Jumhur.

Sementara itu, Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH menyatakan menyambut baik ajakan menteri agar Unissula menjadi ujung tombak penanganan secara menyeluruh problem Pantai Utara Jateng. “Kami tentu merasa sangat terhorman, ketika Kementerian LH menjadi Unissula sebagai kepanjangan tangan Kementerian. Kami akan segera menyiapkan tim agar kerjasama ini menjadi optimal,” ujar Rektor.

Pada acara itu, antara Unissula dan Kementerian Lingkungan Hidup telah menandatangani kerjasama menyeluruh dalam penanganan problem pantura Jawa Tengah. Tanda Tangan basah dilakukan antara Rektor Unissula dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

SAMPAH DAN ISU GENDER

Sementara itu, saat memberi sambutan di acara Pencanangan Kota Semarang sebagai Pilot Projek Penanganan Sampah berbasis Komunitas, Menter LH menyatakan, sampah ternyata bisa selesai dengan tuntas ketika berhasil melibatkan perempuan.

“Di Bulusan Edu Park ini, saya tidak melihat kehadiran negara. Tapi inisiatif untuk menangani sampah dari hulunya bisa selesai dengan tuntas. Saya malah melihat yang bergerak semua ibu-ibu rumah tangga, kelompok bank sampah tingkat RT, ibu-ibu PKK. Dan sampah terbukti selesai di tingkat terkecil,” jelas Jumhur si Bulusan Edu Park kemarin.

Menurutnya, isyu jender selalu muncul di tengah problem masyarakat. “Ini inisiatif yang luar biasa. Dari sampah bisa berkembang ke mana-mana. Ada magot, budidaya cacing, pertanian organik, kompos, pupuk organik,” ujar Jumhur.

Menurutnya, inisiatif seperti ini harus ada kehadiran negara. “Ini tidak dibantu negara saja sudah luar biasa. Apalagi nanti Kementerian Lingkungan Hidup akan mendukung penuh program sejenis,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Jumhur memberikan bantuan mesin secara simbolik. Mesin itu berupa alat untuk mengolah sampah organik agar menjadi bubur dan alat olah sampah plastik agar menjadi bijih plastik.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *